Langsung ke konten utama

Postingan

A Whole New World

2018 menjadi pintu, di mana aku akan memasuki dunia baru, dunia yang belum pernah aku jejaki di tahun-tahun sebelumnya.  Bukan bentuk dari resolusi pergantian tahun, tapi semua seperti mengalir begitu saja. Ini rasanya seperti ketika aku memasrahkan apa jadinya hidupku kepada Allah, dan Allah membuka pintu-pintu yang selama ini tidak pernah aku ketuk, bahkan aku toleh pun juga tidak.  8 Januari 2018, menjadi hari pertama kalinya aku datang lagi ke sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, bukan sebagai murid aku datang kali ini, melainkan sebagai guru.  Hehe lucu kalau dipikir-pikir, sekitar tujuh tahun lalu aku menangis ketika Ayahku menyarankan aku untuk kuliah di jurusan keguruan saja, setelah aku rasa tak punya lagi kesempatan menjadi mahasiswi fakultas kedokteran di tahun 2011. Aku benar-benar tidak mau menjadi guru, menurutku dulu profesi guru itu tidak keren dan membosankan, menghadapi anak-anak murid yang nakal.  Tahun demi tahun ber...

Analogi

Kata Kang Abik lewat tokoh Subki di Api Tauhid "bumbu makanan paling nikmat itu adalah rasa lapar. Saat lapar, makanan apa pun akan terasa nikmat" . Aku setuju dengan pernyataan tersebut, ambillah contoh orang yang berpuasa. Seharian menahan nafsu, menahan lapar dan haus, waktu berbuka adalah waktu yang paling dinanti. Ketika seteguk air begitu berarti untuk membasahi kerongkongan yang mengering dan sebutir kurma menjadi pengganjal perut yang melilit. Kenikmatan berbuka meski dengan seteguk air mungkin tak dirasa oleh mereka yang tak puasa. Mereka yang tak puasa mungkin menanti bedug magrib tanpa rasa harap-harap sabar. Mungkin.  Nah, dalam Islam, puasa itu merupakan suatu perisai yang membatasi kaum muslimin dari perbuatan yang berlebihan. Bahkan, untuk menjaga iman para pemuda lajang yang belum mampu menikah, puasa menjadi jalan tengahnya.  “Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah...

Tulisan Untuk Sebuah Kedatangan #2

Aku pernah memikirkan, hal apa dalam diriku yang kira-kira sulit untuk diterima oleh pasanganku nanti. Apakah ketidaksempurnaanku, ataukah kekuranganku.  Tapi, jauh sebelum pertanyaan itu aku berikan untuk orang yang nanti akan datang, aku meminta diriku sendiri terlebih dulu untuk menjawabnya. Hal apa yang sulit aku terima dari diriku sendiri? Ternyata jawabannya adalah masa lalu. Lalu, bagaimana aku bisa meminta orang lain untuk menerima hal yang bahkan aku sendiripun belum bisa menerimanya?  Kalau tak dimaafkan sejak sekarang, tak diterima sedari kini, kapankah kita akan belajar untuk memetik hikmah dari masa lalu? - Tanyaku pada diri sendiri.  Kelak, pekerjaan kita akan semakin berat. Pikiran kita akan semakin terbeban, kalau perihal diri sendiri saja kita belum selesai, bagaimana kita bisa mulai menata kehidupan baru dengan orang lain? Maka dari itu, aku pelan-pelan memaafkan diriku sendiri. Tidak mudah memang, tapi terus-terusan membenci diri send...