Langsung ke konten utama

Postingan

Tulisan Untuk Deby

Kadang-kadang, manusia lupa akan hakikat kepemilikan. Saat merasa terikat dengan seseorang, kita mengartikan bahwa dia adalah utuh milik kita. Seperti Ibu kepada anaknya, anak kepada ibunya, istri kepada suaminya, ayah kepada anaknya dan banyak hubungan lain, yang membuat kita lupa bahwa kita di dunia ini hanya dititipi sementara, bukan menjadi pemilik utuhnya. Titipan-titipan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebab itulah, dalam suatu hubungan yang mengikat satu manusia satu dan yang lain, perasaan memanglah penting, tapi bukan yang utama. Lalu apa yang lebih utama dari perasaan pribadi kita ini? Adalah tanggung jawab kita kepada yang Maha segala. 💔
Postingan terbaru

Books of 2018

Iqra! Adalah wahyu pertama yang di sampaikan Allah kepada Rasulullaah melalui malaikat Jibril. Di antara banyak kata perintah dalam Al-Qur'an, Allah memilih perintah membaca yang turun sebagai wahyu pertama. Mengapa demikian? Hal ini mengindikasikan bahwa membaca adalah sumber pokok ilmu, sedang agama Islam adalah ilmu. Dan salah satu metode yang Allah ajarkan untuk memperoleh ilmu dalam deen adalah dengan membaca. Nah, di postingan kali ini saya ingin berbagi  sedikit bahan bacaan. Karena saat ini bertepatan dengan momen bulan Ramadhan, barangkali postingan ini bermanfaat dan menginspirasi teman-teman yang ingin menutrisi otak dengan bacaan-bacaan bernuansa Islam. Berikut ini adalah buku-buku that I read in these past few months , yang menurut saya menarik untuk dibaca dan wajib kamu baca juga! Terutama buat perempuan hehe. 1. Srikandi Indonesia yang Mendunia Keteladanan sosok Ibu dari 13 anak ini, membuat saya pribadi menjadi termotivasi untuk terus bergerak menebar k...

Mencintai Kehilangan

Yang fana adalah waktu, kata Sapardi Djoko Damono. Di antara kepingan bahagia yang semakin utuh, aku merenungi kembali kata-kata Mas Gun kala itu, kita mencintai yang sewaktu-waktu pergi, kita belajar bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa. Bahkan diri kita sendiripun bukan milik kita.  "Kalau mama nanti meninggal, diginiin ya mbak. Terus jagain adik-adik. Terus..." Sering Ibuku berkata seperti itu, beliau bilang syarat mati tidak harus sakit dan tidak harus tua. Setiap kali Ibuku berkata seperti itu, sesungguhnya aku marah, aku tidak siap dan tidak akan pernah siap kehilangan. Bisa apa aku tanpa Ibu. Aku tanpa Ibuku, seperti seseorang yang kehilangan salah satu kakinya, jangankan untuk berlari, berdiripun tak akan seimbang.  "Kalau mbak yang pergi duluan, gimana Mah?"  Kataku balik bertanya, Ibuku hanya tertawa. Pernah suatu kali Ibuku berkata siap kehilangan semua hartanya, di lain waktu dia berkata kalau bisa saja gila karena kehilangan a...