Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Puisi Tak Bertuan

Menjadi hujan... Aku adalah hujan Yang mungkin kamu benci Ketika aku turun tanpa permisi Membasahi lagi cucianmu yang nyaris kering Aku adalah hujan Yang mungkin kamu tunggu Di teriknya siang di Surabaya Aku adalah hujan Yang katanya kamu sukai Tapi kamu lebih memilih berlindung di balik jendela kamarmu Aku adalah hujan Yang mungkin kamu tunggu Tapi kamu selalu berteduh, tidak menyambutku ramah Aku adalah hujan Yang tidak akan pernah lagi menyapamu Karena aku adalah hujan

Untuk Ayah~

Dalam malam ada doa yang yang dilangitkan selagi sunyi Oleh hati yang mengiba sebuah jumpa Di puncak malam ini aku mengekalkan sepi Bersama rintik yang tanpa malu mencumbu bumi Jarak kita bukan lagi sebatas bilangan senti Kini rindu mulai menjalar ditiap inchi hati Dua minggu kita tak bertemu Dalam diam aku menumpuk rindu Ayah, namamu selalu ada di barisan doaku Selesaikan dinasmu Ada banyak beban dipundakku, ingin kutumpahkan tangis dipelukmu~ Ditulis dengan perut lapar, ketika gerimis makin menderas. Halah, Deb~

Menunggu Waktu

Aku menunggu.. Menunggu waktu memberi tahu ke mana pergimu setelah singgah.. Menunggu bumi berbisik menunjukkan tempat yang kau pilih tuk berpindah.. Menunggu matahari membocorkan rahasia siapa yang kau pilih tuk habiskan senja.. Aku menunggu.. Menunggu rintik yang pelan-pelan hapuskan kenangan.. Menunggu hujan yang kan bawa pergi jauh harapan.. Menunggu rasaku menjelma embun, tabah menanti pagi, menyambut hangat mentari, untuk kemudian teruapkan.. Aku menunggu.. Menunggu hari ketika aku benar-benar harus ucapkan salam perpisahan.. Di tempat yang mungkin tak terjamah pikirmu, aku menunggu.. di barisan kursi penonton yang sepi, dalam diam aku menunggu.. karena mereka memilih jadi bagian ceritamu, aku memilih tempat terbaik tuk menyaksikan kisahmu.. Tapi, Tuan.. penonton bukan berarti tak punya peran, bukan?

Di Kolong Langit

Kejar-kejaran di labirin rasa Menyusuri lorong waktu Mencari kepastian dibalik untaian kata Irisan keperluan selalu jadi titik temu Gerimis datang pasti perlahan kecepatannya seragam dalam sendu Di kolong langit kita kebasahan saling lempar senyum yang malu malu Rasa suka bukan jaminan Aku dan kamu hanya dimanja waktu Sampai kapan akan beriringan Berpijak pada lantai keyakinan semu Saat kata tercipta untuk ditertawakan Ragu dan yakin tak ada batasan ada kemustahilan untuk menjadi `kita` Aku dan kamu hanya insan penganut ragu

Belum Jatuh Lagi

Pada detak jarum jam yang menjadi kendali waktu, aku mengadu Pada tetesan hujan yang jatuh ke tanah, aku bertanya Di sujud yang menjadi titik temu antara aku dan sang pencipta, aku berserah Kenapa bibirku tersenyum tapi hampa Kenapa lidahku berkata tapi tak bermakna Oh mungkinkah aku gagal merayu cinta? Memintanya jatuh tepat di hati yang nelangsa Menciptanya seolah ia bagian dari rekayasa dunia Membangunnya di atas keraguan doa Semakin ku gapai wujudnya makin semu Semakin ku raih aroma makin jauh Kucoba bisikkan doa lirih, ia makin tak tersentuh Adakah waktu mengerti? Adakah hujan memahami? Adakah Tuhan mengilhami? Seorang hamba yang telah menjadi budak waktu Seorang hamba yang hatinya membatu Seorang hamba yang merayu tak kenal malu Semoga pada detak jam yang ke sekian ribu Pada hujan yang menggemuruh Pada sujud yang tak ada batasan malu untuk mengadu Tuhan pasti menjawab doa Aku belum lelah menengadah Masih setia membentang sejadah Menghamba pada ...

Sekeping Rindu

Rindu itu kadang tak tau malu datang dengan wujud sembilu menohok relung-relung tak bercelah rindu itu kadang tak tau malu tak peduli yang dihampiri merasa pilu meminta hak untuk berjumpa rindu itu kadang tak logis getaran hati di terjemah dalam tangis rindu itu kadang datang terburu-buru membuat ritme yang mengalun sendu berubah menjadi gemuruh rindu itu entah darimana datangnya kenangan kadang jadi penyebabnya rindu itu terlalu menuntut meminta waktu berjalan perlahan memutar kenangan dengan terurut -Deby Theresia- sekeping rindu untuk ketiga 'musuh' kesayanganku ; Dimas, Danda, Dandi rasanya waktu berlalu terlalu cepat, kalian membujang kini tanpa kusadari, bocah-bocah kecil yang dulu selalu jadi teman adu mulut, berlomba mengencangkan suara untuk dapat perhatian lelaki yang bicara dibalik telepon ; papa. Bocah-bocah yang dulu jadi teman adu jontos, membuat mama berpura merajuk hingga mengunci diri di kamar. Bocah-bocah yang jadi teman setia, meng...