Langsung ke konten utama

Menunggu Waktu

Aku menunggu..
Menunggu waktu memberi tahu ke mana pergimu setelah singgah..
Menunggu bumi berbisik menunjukkan tempat yang kau pilih tuk berpindah..
Menunggu matahari membocorkan rahasia siapa yang kau pilih tuk habiskan senja..

Aku menunggu..
Menunggu rintik yang pelan-pelan hapuskan kenangan..
Menunggu hujan yang kan bawa pergi jauh harapan..
Menunggu rasaku menjelma embun, tabah menanti pagi, menyambut hangat mentari, untuk kemudian teruapkan..

Aku menunggu..
Menunggu hari ketika aku benar-benar harus ucapkan salam perpisahan..

Di tempat yang mungkin tak terjamah pikirmu, aku menunggu..
di barisan kursi penonton yang sepi, dalam diam aku menunggu..
karena mereka memilih jadi bagian ceritamu, aku memilih tempat terbaik tuk menyaksikan kisahmu..
Tapi, Tuan.. penonton bukan berarti tak punya peran, bukan?

Komentar

jokbelakang mengatakan…
Eeeaaakkk menunggu itu menjemukan bukan?
Deby Theresia mengatakan…
Bukan,
Tapi sangat menjemukan, mbak :v
Makasih sudah membaca :3
Anonim mengatakan…
aku sukaaaak sama kalimat penutupnya: "Tapi, Tuan...penonton bukan berarti tak punya peran, bukan?". Kereeen deby.... :*
Deby Theresia mengatakan…
Aaaak senangnya, dibaca mb putri.... terimakasih sudah mampir mb Putri :3

Postingan populer dari blog ini

Setulus Cinta Ayah

Suatu sore di teras rumah  "Ayah, jika suatu hari aku menikah, laki-laki seperti apa yang pantas untukku?" Gea memecah suasana hening dalam permainan catur sore itu.  Ayah menghela nafas, kemudian tertawa sebelum menjawab "Yang bisa main catur lebih hebat dari ayah" Gea melempar pandangan nya ke wajah ayah.  "Banyak dong yah yang bisa main catur, serius ih"  "Skak mat!!! Yes ayah menang" ayah tertawa puas Gea makin jengkel.  "Putriku sayang, permainan catur adalah seperti menkalukan kehidupan. Bila ia punya strategi yang bagus, menanglah ia dalam permainan. Sama seperti hidup, bila ia punya misi yang jelas dalam mewujudkan visi nya, ia adalah pemenang. Tak kan di perbudak dunia. Permainan catur adalah bagaimana berfikir jeli dan jernih, melihat peluang tanpa tergesa-gesa. Sama seperti pada kehidupan. Semoga kau paham"  Ayah mengacak-acak rambut putri semata wayang nya yang beranjak dewasa. Gea bertan...

Bumi dan Bulan

Tulisan kali ini, aku dedikasikan untuk keluarga tercinta, OWOPers di seluruh Indonesia -halah lebay-  Jadi begini, kalian pernah ingat tentang komitmen awal kita ketika OWOP dibangun ulang? Kalau tidak salah, sekitar bulan Nopember atau Oktober ya? Aku ingat betul, ketika itu ada sekitar seratus orang berjejalan dalam satu group WA. Penuh sesak obrolan siang-malam. Owop jadi group yang tak ada matinya berbulan-bulan. Eh malah nostalgia -_-  Tadi kan kita lagi bahas komitmen ya? Iya, komitmen kita untuk menulis 'satu pekan satu tulisan' sesuai nama komunitas ini. Pernah ingat juga tentang partner menulis? Hayo... jangan-jangan kalian lupa siapa partner kalian. Itu loh, pasangan menulis kita, yang jadi alarm kalo kita lagi males nulis. Nah, komitmen yang akan aku bahas di sini, erat kaitannya dengan partner menulis kita itu.  Kalau aku tidak salah ingat, ada pembagian jenis tulisan setiap minggunya. Minggu pertama kita menulis sesuai passion. Minggu kedua kita...

Sakit, Tanda Cinta Nya

"Bu, aku lagi sakit. Rambutku rontok lagi, banyak"  Satu pesan masuk ke ponselku, pesan dari putriku yang merantau di belahan timur pulau Jawa. Pesan yang sampai satu jam yang lalu itu baru terbaca, dan tak ada pesan lanjutan, putriku pasti sedang lemah dan tidur-tiduran.  "Badanmu panas, mbak? Ke dokter lah, jangan malas minum obat" balasku singkat  Dalam hati aku berdoa, Tuhan, putriku sendirian di sana, yang Ia punya hanya engkau. Aku tak tau siapa temannya di sana. Aku mohon kuatkan Ia. Aku teringat beberapa tahun yang lalu, ketika putriku masih kelas satu SMP. Sudah dua hari dia demam tinggi, tiba-tiba ia berlari menghampiriku ke dapur "ibu, rambutku banyak yang rontok" ia menatapku dengan wajah cemas, di tangannya menggenggam segumpal rambut. Dalam dadaku jantung berdegup sudah tak beraturan, tapi aku mencoba tenang. "Itu karena badanmu terlalu panas, rambutnya jadi rontok, makanya kita dokter ya" aku mencoba membujuknya . ...