Langsung ke konten utama

Postingan

Tentang PLN, yang Terakhir

1 November 2017  Subuh kala itu masih sama dinginnya dengan subuh-subuh sebelum tanggal 1. Ketika berat kelopak mataku melawan kantuk, kulihat satu pesan masuk dari salah seorang teman, dia bilang PLN sudah pengumuman.  Masih jelas terasa tiap perasaan yang menggiring jari-jariku menuju laman rekrutmen PLN, tanpa gugup apalagi debar-debar penuh harap. Sebab sejak lama sudah harapanku tak lagi menyala. Halah wkwkwk  Jadi intinya, pas mau buka akun di rekrutmen PLN, itu biasa aja. Pas udah kebuka akun ku, ternyata aku ga lulus. Terus ga ada rasa kecewa yang berlebihan, ga ada rasa sedih, sesedih waktu aku ga lulus FK Unsri. Iya, gaada perasaan begitu. Cuma yang 'oh ga lulus, yaudah' .  Setelah kukabarkan kepada Ibu, tentang tertolaknya pinangan dan ikhtiarku pada si 'petir' barulah aku merasa kecewa, sebab rasanya aku kalah, tidak mampu memenangkan 'kompetisi' ini untuk orang-orang terdekatku, terutama Ibu.  Usai sholat Subuh, aku terduduk lam...

Imannya Perempuan Surga

Saat seorang muslim miskin, itu hanya berarti ia tidak memiliki harta. Saat Allah takdirkan seorang muslim tak memiliki kaki, itu hanya bermakna ia tak memiliki kaki. Namun ketika seorang muslim kehilangan iman, itu berarti ia tak punya apa-apa - jurnal Ameera Lalu, apa sebenarnya iman itu?  Dari Abu Hurairah, beliau berkata “ Pada suatu hari, ketika Nabi Shollallahu ‘alayhi wasallam tengah berkumpul bersama para sahabat, tiba-tiba datang seorang lelaki bertanya, ‘Apa itu iman?’ Nabi menjawab, ‘Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, perjumpaan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir kebangkitan.’ ...... ” (HR Bukhari, kitab: “Iman” (2), Bab: Pertanyaan malaikat Jibril kepada Nabi Shollallahu ‘alayhi wasallam tentang iman dan islam (37)) Dari penggalan hadits di atas, iman dapat kita artikan percaya, selaras dengan pengertian iman dalam KBBI yaitu percaya; yakin; teguh hati; keyakinan yang berkaitan dengan agama.  Iman, adalah satu kata ya...

Pilihan Kita

Sadar tidak? Semakin dewasa, kita semakin sulit menentukan pilihan. Pilihan-pilihan yang kita buat kadang jatuh pada hal yang sebenarnya tidak benar-benar kita pilih dari hati.  Pilihan-pilihan kita itu, seringkali merupakan bentuk konsekuensi kita sebagai makhluk sosial. Terlalu banyak 'katanya-katanya' yang menjadi faktor kita dalam memilih.  Sehingga seringkali pula, kita memilih tapi tidak siap dengan lahirnya resiko atas pilihan kita. Yang begini, akan mendatangkan banyak andai-andai 'kalau saja dulu begini, dulu begitu' .  Sadar tidak? Karena ketidaksiapan kita terhadap resiko, malah mengundang satu dosa baru yaitu 'andai-andai' .  Sadar tidak? Kenapa kita sering terjebak pada pilihan yang 'seolah' salah? Karena dari awal, kita tidak melibatkan Allah dalam memilih, kita menimbang sesuatu lebih banyak menggunakan logika dan perasaan. Padahal, keduanya bisa saja salah, bahkan sangat salah.  Lupa kah kita pada teladan yang diajarkan...