Langsung ke konten utama

Postingan

Berhentilah Memaksa

Malam kian pekat ketika hujan membungkus sunyi. Derap langkah hujan di atas bumi menghapus segala sekat yang pisahkan kita, termasuk jarak.  Kita telah sepakat bahwa hidup adalah pergiliran rasa. Kita tak pernah tau kapan akan jatuh, bersimpuh, terjerembab, kemudian bangkit. Kita tak bisa pastikan hari ini ada suka, luka, atau bahkan duka.  Tidak. Sesekalipun kita tak bisa menebak, karena perputaran waktu tak pernah menjanjikan itu. Maka kita tak bisa mengeluh bila bahagia dan luka datangnya tak tepat waktu.  Kita juga tak memegang tuas kendali, dan tak bertanggung jawab atas pedal yang menggerakkan roda perputaran rasa. Hingga bila seseorang jatuh, bukan kuasa kita untuk selalu menyambut dengan tangan membentang. Tiap kita punya kapasitas diri, tiap kita di anugerahi sepasang tangan. Bukan untuk menangkap sembarang harapan. Maka, bila terlanjur aku atau bahkan kamu larut dalam pengharapan, kita tak bisa saling menjajikan rasa. Pun tak punya kuasa menawarka...

Haramkah Surga Bagiku?

Pertanyaan paling mengerikan yang diajukan seseorang kepadaku jum`at kemarin. Ialah bu Wanti di tengah-tengah lingkaran, dengan suara lembut nya menanyakan kepada kami, bukan hanya aku karena usai bertanya "haramkah surga bagiku? Tanyakan itu pada diri kita" matanya beredar menyentuh satu persatu mata kami. Dan ilmu baru yang aku dapat jum`at kemarin adalah tentang bahaya syirik. Izinkan aku berbagi walau sedikit :) Syirik secara sederhana dapat diartikan membuat tandingan untuk Allah atau menuhankan selain Allah. Selama ini yang aku tau syirik adalah dosa besar yang tidak akan di ampuni Allah. Tapi ternyata banyak lagi bahaya lainnya yang mengiringi. 1. Syirik termasuk dosa besar dan Allah tidak mengampuni pelaku syirik. Hal ini tertulis dalam Al-qur`an, An-nisa : 48 "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa karena mempersekutukan Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia tela...

Di Kolong Langit

Kejar-kejaran di labirin rasa Menyusuri lorong waktu Mencari kepastian dibalik untaian kata Irisan keperluan selalu jadi titik temu Gerimis datang pasti perlahan kecepatannya seragam dalam sendu Di kolong langit kita kebasahan saling lempar senyum yang malu malu Rasa suka bukan jaminan Aku dan kamu hanya dimanja waktu Sampai kapan akan beriringan Berpijak pada lantai keyakinan semu Saat kata tercipta untuk ditertawakan Ragu dan yakin tak ada batasan ada kemustahilan untuk menjadi `kita` Aku dan kamu hanya insan penganut ragu