Langsung ke konten utama

Masakan Mama

"Mbak sudah makan? mama baru sudah bikinin mie tumis buat Dimas"

Huff, Mama sering kali buatku rindu tiba-tiba. Malam-malam cerita mie tumis. Kan jadi mau :(((. Mie tumis buatan mama itu, mie indomie biasa, tapi pakai bawang goreng, kol atau biasanya caisin (atau apalah nama sayurnya itu, gatau juga aku), tomat dan rawit, lalu ditumis. Sederhana memang, tapi kalau mama yang bikin, rasanya jadi beda. Jadi lebih enak.

Nah tadi pagi aku udah gak bisa menahan hasrat. (wk hasrat banget?) akhirnya aku bikin mie tumis ala ala. Selesai masak, foto dulu kirim ke mama. Belum sempet dicicipin langsung dikomen mama "wih mantap tuh mie tumis" . Pas aku rasain, gak seenak buatan mama. Hahah rupa-rupanya aku belum pandai masak. Tapi gpp, i like my self =D

Salah satu hal baik dari menjadi seorang anak rantau adalah; bisa belajar masak. Karena kalau di rumah malas masak, selalu mikir 'kan ada yang masakin' .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bumi dan Bulan

Tulisan kali ini, aku dedikasikan untuk keluarga tercinta, OWOPers di seluruh Indonesia -halah lebay-  Jadi begini, kalian pernah ingat tentang komitmen awal kita ketika OWOP dibangun ulang? Kalau tidak salah, sekitar bulan Nopember atau Oktober ya? Aku ingat betul, ketika itu ada sekitar seratus orang berjejalan dalam satu group WA. Penuh sesak obrolan siang-malam. Owop jadi group yang tak ada matinya berbulan-bulan. Eh malah nostalgia -_-  Tadi kan kita lagi bahas komitmen ya? Iya, komitmen kita untuk menulis 'satu pekan satu tulisan' sesuai nama komunitas ini. Pernah ingat juga tentang partner menulis? Hayo... jangan-jangan kalian lupa siapa partner kalian. Itu loh, pasangan menulis kita, yang jadi alarm kalo kita lagi males nulis. Nah, komitmen yang akan aku bahas di sini, erat kaitannya dengan partner menulis kita itu.  Kalau aku tidak salah ingat, ada pembagian jenis tulisan setiap minggunya. Minggu pertama kita menulis sesuai passion. Minggu kedua kita...

Bidadari Bermata Bening

Seperti karya-karya Kang Abik sebelumnya, novel ini sungguh manis dan romantis. Gambar di atas adalah salah satu potongan kalimat yang paling aku suka diantara banyak kata romantis dalam novel tersebut.  Agak berbeda dengan novel-novel karya beliau yang pernah aku baca, seting latar cerita Bidadari ini lebih banyak di Inodenesia, khususnya di Jawa Tengah. Lewat karyanya yang entah ke berapa ini, Kang Abik mengangkat tema kehidupan santriwan/wati di sebuah pesantren.  Lewat karakter tokoh dalam bukunya, aku kagum dengan cara Kang Abik menyampaikan kritik dan nasehat dengan bahasa santun yang penuh cinta.  Dalam tulisan ini, tidak banyak yang ingin aku ceritakan. Hanya ingin merekomendasikan Bidarari Bermata Bening ini untuk para penikmat karya sastra berupa novel. Mengutip kata-kata Deria, Bidadari Bermata Bening ini layak dikategorikan sebagai novel yang 'harus kamu punya' 👌

Tulisan Untuk Deby

Kadang-kadang, manusia lupa akan hakikat kepemilikan. Saat merasa terikat dengan seseorang, kita mengartikan bahwa dia adalah utuh milik kita. Seperti Ibu kepada anaknya, anak kepada ibunya, istri kepada suaminya, ayah kepada anaknya dan banyak hubungan lain, yang membuat kita lupa bahwa kita di dunia ini hanya dititipi sementara, bukan menjadi pemilik utuhnya. Titipan-titipan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebab itulah, dalam suatu hubungan yang mengikat satu manusia satu dan yang lain, perasaan memanglah penting, tapi bukan yang utama. Lalu apa yang lebih utama dari perasaan pribadi kita ini? Adalah tanggung jawab kita kepada yang Maha segala. 💔