Langsung ke konten utama

Teruslah Mendaki

Seandainya kau tahu bahwa kau sungguh berharga
Kau bisa jadi apa saja asal kau berupaya
Seandainya kau tahu apa doa Ayah dan Bunda
Tak mungkin sampai engkau tega mematahkan mimpinya

Teruslah bergerak, hingga rasa lelah sendiri kelelahan  mengikutimu

Sebab nanti suatu hari, kau akan tersenyum setiap pagi
Menikmati jerih diri dan segala yang telah kau lalui

Sebab nanti suatu hari, kau punya cerita tuk dibagi tentang mimpi yang tak pasti
Namun kau membuatnya terjadi

Belum saatnya berhenti, ayo terus mendaki
Sudah tak jauh lagi kini, ayo terus dekati

Seandainya kau tahu apa di balik gunung sana
Terhampar padang bunga-bunga, kau akan bahagia
Seandainya kau tahu bahwa anak-anakmu kelak inginkan sebuah cerita pahlawan di hidupnya

Teruslah bergerak, hingga rasa lelah sendiri kelelahan  mengikutimu

Sebab nanti suatu hari, kau akan tersenyum setiap pagi
Menikmati jerih diri dan segala yang telah kau lalui

Sebab nanti suatu hari, kau punya cerita tuk dibagi tentang mimpi yang tak pasti
Namun kau membuatnya terjadi

Belum saatnya berhenti, ayo terus mendaki
Sudah tak jauh lagi kini, ayo terus dekati semua mimpi...

Dengerin deh lagunya enak banget :)

Komentar

MacMan mengatakan…
Aku tak ingin seperti semeru yang ratusan tahun terpisah dengan penanggungan.

Postingan populer dari blog ini

Bumi dan Bulan

Tulisan kali ini, aku dedikasikan untuk keluarga tercinta, OWOPers di seluruh Indonesia -halah lebay-  Jadi begini, kalian pernah ingat tentang komitmen awal kita ketika OWOP dibangun ulang? Kalau tidak salah, sekitar bulan Nopember atau Oktober ya? Aku ingat betul, ketika itu ada sekitar seratus orang berjejalan dalam satu group WA. Penuh sesak obrolan siang-malam. Owop jadi group yang tak ada matinya berbulan-bulan. Eh malah nostalgia -_-  Tadi kan kita lagi bahas komitmen ya? Iya, komitmen kita untuk menulis 'satu pekan satu tulisan' sesuai nama komunitas ini. Pernah ingat juga tentang partner menulis? Hayo... jangan-jangan kalian lupa siapa partner kalian. Itu loh, pasangan menulis kita, yang jadi alarm kalo kita lagi males nulis. Nah, komitmen yang akan aku bahas di sini, erat kaitannya dengan partner menulis kita itu.  Kalau aku tidak salah ingat, ada pembagian jenis tulisan setiap minggunya. Minggu pertama kita menulis sesuai passion. Minggu kedua kita...

Bidadari Bermata Bening

Seperti karya-karya Kang Abik sebelumnya, novel ini sungguh manis dan romantis. Gambar di atas adalah salah satu potongan kalimat yang paling aku suka diantara banyak kata romantis dalam novel tersebut.  Agak berbeda dengan novel-novel karya beliau yang pernah aku baca, seting latar cerita Bidadari ini lebih banyak di Inodenesia, khususnya di Jawa Tengah. Lewat karyanya yang entah ke berapa ini, Kang Abik mengangkat tema kehidupan santriwan/wati di sebuah pesantren.  Lewat karakter tokoh dalam bukunya, aku kagum dengan cara Kang Abik menyampaikan kritik dan nasehat dengan bahasa santun yang penuh cinta.  Dalam tulisan ini, tidak banyak yang ingin aku ceritakan. Hanya ingin merekomendasikan Bidarari Bermata Bening ini untuk para penikmat karya sastra berupa novel. Mengutip kata-kata Deria, Bidadari Bermata Bening ini layak dikategorikan sebagai novel yang 'harus kamu punya' 👌

Tulisan Untuk Deby

Kadang-kadang, manusia lupa akan hakikat kepemilikan. Saat merasa terikat dengan seseorang, kita mengartikan bahwa dia adalah utuh milik kita. Seperti Ibu kepada anaknya, anak kepada ibunya, istri kepada suaminya, ayah kepada anaknya dan banyak hubungan lain, yang membuat kita lupa bahwa kita di dunia ini hanya dititipi sementara, bukan menjadi pemilik utuhnya. Titipan-titipan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebab itulah, dalam suatu hubungan yang mengikat satu manusia satu dan yang lain, perasaan memanglah penting, tapi bukan yang utama. Lalu apa yang lebih utama dari perasaan pribadi kita ini? Adalah tanggung jawab kita kepada yang Maha segala. 💔