Langsung ke konten utama

Postingan

Pilihan Kita

Sadar tidak? Semakin dewasa, kita semakin sulit menentukan pilihan. Pilihan-pilihan yang kita buat kadang jatuh pada hal yang sebenarnya tidak benar-benar kita pilih dari hati.  Pilihan-pilihan kita itu, seringkali merupakan bentuk konsekuensi kita sebagai makhluk sosial. Terlalu banyak 'katanya-katanya' yang menjadi faktor kita dalam memilih.  Sehingga seringkali pula, kita memilih tapi tidak siap dengan lahirnya resiko atas pilihan kita. Yang begini, akan mendatangkan banyak andai-andai 'kalau saja dulu begini, dulu begitu' .  Sadar tidak? Karena ketidaksiapan kita terhadap resiko, malah mengundang satu dosa baru yaitu 'andai-andai' .  Sadar tidak? Kenapa kita sering terjebak pada pilihan yang 'seolah' salah? Karena dari awal, kita tidak melibatkan Allah dalam memilih, kita menimbang sesuatu lebih banyak menggunakan logika dan perasaan. Padahal, keduanya bisa saja salah, bahkan sangat salah.  Lupa kah kita pada teladan yang diajarkan...

Sunnah Sedirham Surga

Betapa sering kita bersemangat akan hal-hal besar dalam cita memperjuangkan agama, lalu lalai bahwa Rasulullah adalah teladan dalam tiap detak dan semua laku, pun yang sekecil-kecilnya.  Pada zaman di mana banyak amal besar dikecilkan oleh niat yang tak menyurga; betapa  penting bagi kita mentarbiyah niat dalam amal-amal kecil yang luput dilirik manusia, tapi berpeluang menjadi nilai tinggi bersebab niatnya (SDS, hal. 70) kepiawaian Salim A. Fillah memadukan dalil dengan kisah, menjadikan kekisah di dalam buku ini sungguh menyejukkan hati.  Lewat buku ini, beliau mengajak kita untuk berbenah niat. Karena Tersebab niat yang menyurga, amalan yang tampaknya kecil menjadi ladang pahala yang besar. Seperti dikisahkan dalam buku ini, Abu Dawud tengah berada di atas perahu penyebrangan, tiba-tiba beliau mendengar orang bersin di tepian dan membaca Hamdalaah, lantas beliau rela membalikkan arah perahu yang ditumpanginya dengan membayar satu dirham kepada tukang perahu,...

Tulisan Untuk Sebuah Kedatangan #1

Kalau nanti, seseorang datang dengan maksud terbaik, untuk mengajakmu berumah tangga *uhukk* , jangan pernah tanyakan tentang masa lalunya. Dia mungkin saja pernah memperjuangkan orang lain sebelummu, pernah terluka oleh kisah lalu sebelum menemuimu, pernah patah berkali-kali oleh kesempatan yang ia upayakan namun tak juga ia dapatkan. Kamu jangan takut, jangan merasa bahwa kamu adalah pelarian dari mimpi-mimpinya yang tak sampai. Sebab, kesakitan dan patah hatinya di masa lalu adalah bukti bahwa ia seorang yang tangguh, mampu bangkit dari kubangan luka. Hargai. Sebab, perjuangannya untuk orang lain sebelummu tak akan ada apa-apanya dibandingkan perjuangannya untukmu di masa depan kalian nanti. Tugasmu adalah menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka, peluk mimpi-mimpinya yang sempat patah. Karena bersamamu, mimpi itu mungkin akan menjadi lebih bersinar. Sebersinar jidat sayaaah kalo kena sinar lampu 😊🌞 Eh tulisan ini buat daku sendiri lah cocoknya ya, yang kalo ada Ma...