Langsung ke konten utama

Postingan

Mengenang Kemarin

Ada sebuah kampung, ia jauh dari pusat kota, jauh dari gedung-gedung yang menjulang tinggi, jauh dari pusat perbelanjaan modern, bahkan lokasinya saja mungkin tidak terdeteksi di google maps. Orang-orang di kampung itu, belum pernah pergi jauh, belum pernah ke tempat yang pernah kita datangi. Tapi, orang-orang di sana adalah orang-orang yang mampu memaknai hidup dengan arti yang sesungguhnya. Bahwa hidup adalah untuk dijalani, bukan untuk dikeluhkan. Mereka adalah orang-orang yang paham betul makna dari kata bersyukur.  Mereka adalah orang-orang yang dengan ikhlas berbagi kebahagiaan, dan kebahagiaan mereka itu sungguh menular.  Maka, bertanyalah pada diri kita sendiri. Apa yang sudah kita pelajari dari perjalanan jauh yang telah banyak kita lakukan? Adakah kita sebersyukur mereka? Sudahkah kita bahagia seperti mereka?  Foto di ambil ketika di Pengabuan. Palembang, Mei 2017

Yang Sebenarnya..

"Tapi, yang ada di Jakarta dan tidak ada di kebanyakan kota besar lainnya itu, barisan gedung-gedung yang tinggi. Bikin takjub" "Iya, apalagi kalau kamu jalan-jalan malam di Jakarta, makin takjub nanti" "Iya tuh, dua hari kemarin tiap pagi aku langsung duduk di sofa depan jendela, yaampun bagus banget gedung-gedungnya kelihatan samar, ketutup kabut" "Hukkk. Duh sampe batuk aku. Deb, itu polusi, bukan kabut. Maaf ya" Lalu wajahnya nampak menahan tawa, sekaligus prihatin, layaknya mematahkan mimpi seorang bocah.  Ya, tapi itulah Jakarta. Apa yang nampak dan kita pikirkan, kadang tak sama dengan kenyataannya. Seperti kamu, Jakarta itu seperti kamu. Susah ditebak dan diterjemahkan. Jakarta Timur, April 2017

Doa

Bukankah yang maha mengabulkan setiap doa itu mempunyai sifat Al samii' ? Doa yang kita bisikkan pelan-pelan, bahkan yang hanya terucap di hati saja Ia mampu mendengar.  Tapi ada yang menarik belakangan ini, kebanyakan orang gemar menuliskan untaian doa nun indah di caption instagram atau media sosial lain, seolah kalau tidak dituliskan di sana, Allah tidak dengar dan tidak tahu.  Hmm, kenapa demikian? Bukankah tempat terbaik merayu Allah adalah dalam sujud di sepertiga malam?  Gambar dari sini Yogyakarta, April 2017