Langsung ke konten utama

Postingan

Ephemera

Maaf atas segala rasa yang pernah begitu berlebihan, atas bertumpuk-tumpuk rindu yang pernah dikirim angin, atas segala sakit yang sempat kita rasa, atas air mata tak tertahan, atas segala huruf yang pernah terangkai begitu saja, atas jatuh dan bangkit yang berseling membersamaiku, atas amarah dan benci yang aku tak berhak melakukannya. Semoga sang Maghfiru memberikan ampunan-Nya padaku. Juga padamu. Bukankah kita sudah sama-sama percaya bahwa ini semua hanya ephemera? -Ahimsa Azaleav dalam Ephemera- 

Kerajaan

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ   

Hujan dan Rindu

Malam ini lagi bolak-balik baca materi buat UTS besok. Tiba-tiba pesan line dari mama masuk. Isinya seperti ini. M : "lagi hujan deras. Inget kalian" D : "huhu maah di sini jg ujan deres" M : "pengen peluk-peluk kalian. Anak-anak mama lagi apo yo?" Pesan di atas dibubuhi dengan emoticon nangis yang membuat percakapan makin dramatis. Ah hujan :(  Padahal salah satu hal yang membuatku bertahan di Surabaya adalah hujan. Karena ketika hujan aku tahu bahwa Surabaya bisa juga ramah dan bersikap manis. Pada saat hujan aku bisa melupakan rindu yang meluap-luap pada rumah.  Ternyata di seberang sana, seorang wanita kesepian merasakan hal sebaliknya. Ketika hujan, ia merasa rindunya semakin meluap-luap, ketika hujan ia merasa sepinya semakin sunyi. Ialah mamaku :" Katanya, salah satu waktu mustajab untuk berdoa adalah ketika hujan. *kemudian berdoa* Allahumma shayyiban nafi'an ☔