Langsung ke konten utama

Postingan

Kereta, Gigi dan Cinta

Suatu siang di kereta Aku membetulkan letak kacamataku, menatap layar ponsel dengan serius. Tangan kananku menggenggam cakwe pemberian Aci di stasiun Gambir satu jam yang lalu.  Baru setengah jam kereta yang kutumpangi melaju, hatiku seolah telah berjalan ratusan kilometer lebih jauh dari jarak yang telah tertempuh.  Aku membaca ulang percakapanku dengan Aci di bbm dua hari yang lalu.  "Aku kalo jatuh cinta milih-milih juga lah Gil, ga sembarang orang. Cuma orang istimewa dong yang bisa dapet cinta nya aku hahaha"  Aku berhenti lama pada bagian itu. masih belum percaya, wanita yang membuatku rela menghabiskan dua tahun hidupku untuk menjadi sosok teman yang selalu ada, berbagi cerita, tawa, rasa dan air mata, kini telah jatuh cinta pada sosok pria istimewa (katanya), tapi itu bukan aku, bukan Agil atau Ragil Prasetya.  Mukutku masih terus mengunyah cakwe, mataku tetap awas mengamati tiap baris kalimat dalam pesan bbm dari Aci.  "Aaa...

Kacamata

Dua pasang mata  menatap pantai lepas, memandang ke arah laut luas. Melihat laut dan langit menyatu seolah tanpa batas. Aha tapi ada yang berbeda dari Agil hari ini.  "Agil, kacamatamu kenapa di lepas? Pake ayo pake"  Aci mencoba memasangkan kacamata ke muka Agil, sembarang. Hingga salah satu gagang kacamata itu mencolok mata sayu Agil.  Aci tertawa girang melihat Agil menolak dan meringis kesakitan.  "Kamu kenapa sih? Pake dong. Mata silinder dan minus mu itu tak akan mampu menangkap keindahan semesta tanpa benda ajaib ini. Huuhh"  Aci masih saja bawel seperti biasanya. Agil hanya tersenyum, geleng-geleng kepala menanggapi kebawelan Aci, sahabat nya.  "Ci kenapa kamu betah pake kacamata mu? Lepas barang sejenak saja kamu enggan? Kenapa?"  Agil balik bertanya.  "Hahah ya iya lah.. bersamanya dunia jadi lebih terang Gil, lucu kamu"  Jawab Aci singkat. Tanpa menoleh ke lawan bicara nya.  "Kamu ...

Belum Jatuh Lagi

Pada detak jarum jam yang menjadi kendali waktu, aku mengadu Pada tetesan hujan yang jatuh ke tanah, aku bertanya Di sujud yang menjadi titik temu antara aku dan sang pencipta, aku berserah Kenapa bibirku tersenyum tapi hampa Kenapa lidahku berkata tapi tak bermakna Oh mungkinkah aku gagal merayu cinta? Memintanya jatuh tepat di hati yang nelangsa Menciptanya seolah ia bagian dari rekayasa dunia Membangunnya di atas keraguan doa Semakin ku gapai wujudnya makin semu Semakin ku raih aroma makin jauh Kucoba bisikkan doa lirih, ia makin tak tersentuh Adakah waktu mengerti? Adakah hujan memahami? Adakah Tuhan mengilhami? Seorang hamba yang telah menjadi budak waktu Seorang hamba yang hatinya membatu Seorang hamba yang merayu tak kenal malu Semoga pada detak jam yang ke sekian ribu Pada hujan yang menggemuruh Pada sujud yang tak ada batasan malu untuk mengadu Tuhan pasti menjawab doa Aku belum lelah menengadah Masih setia membentang sejadah Menghamba pada ...