Langsung ke konten utama

Postingan

Untuk KIC

Usai ini, kita mungkin tak punya tempat untuk berkumpul bersama lagi seperti hari-hari yang lalu.. usai ini, kita mungkin tak punya banyak kesempatan untuk jumpa satu sama lain.. karena usai ini, kita tak punya daya pun kuasa melawan waktu untuk terus berputar. Maka biarkan hati menjadi ruangan bagi kenangan untuk tinggal dan tumbuh. Biarkan kenangan itu menjadi alasan kita untuk tetap dekat dan terikat dalam ikatan yang lebih dekat dari sekedar sahabat karena kita adalah keluarga ♥♥♥ regards, Deby Theresia                foto pertama kita (sama-sama)               (Semoga) bukan foto terakhir kita  

Takut

Pada suatu waktu kita pernah takut pada perubahan dilain waktu kita pernah takut pada masa yang niscaya akan datang kadang-kadang kita juga takut akan derasnya aliran waktu. Yang tanpa sadar menghayutkan kita, membawa kita keluar dari zona nyaman kemudian kita menangis, menangisi ketakutan-ketakutan itu. Sadar, bahwa apa yang kita takuti bukanlah dzat yang pantas untuk ditakuti. Lalu tangis tadi makin jadi saat kita sadar yang kita tangisi bukan dzat yang pantas ditangisi. Maka bersyukurlah bila ketakutan itu yang mengumpulkan puing-puing kesadaran. Maka bangkitlah saat kesadaran itu telah pulih. Karena untuk kita, tak ada yang pantas ditakuti selain Ia. Karena semua yang telah dan akan terjadi nanti adalah mutlak berada di tangan Nya, telah tertulis 50.000 tahun sebelum semesta tercipta. #tulisan yang pantas ditujukan untuk yang menulis. Semoga langkah kita semua kian ringan karena beban takut baru saja kita bebaskan dari benak kita..  

Berkunjung ke Dunia Tanpa Lelaki

Saat pertama kali mendengar tentang 'dunia tanpa lelaki' aku langsung membayangkan sebuah hunian yang berisi kaum hawa semuanya.. Lalu aku menebak-nebak, oh mungkin ini sebutan untuk pesantren. Tak ada niat untuk tau lebih jauh. Bahkan saat si pembicara bercerita tentang keunikan kehidupan kaum hawa disana, aku masih sibuk dengan laporanku. Hingga sampai di penghujung cerita pembicara dalam seminar keputrian itu memperlihatkan gambar-gambar penghuni dunia tanpa lelaki, aku tercengang.. ternyata memang pesantren, iya pesantren seperti yang aku kira. Tapi ini beda, bukan pesantren impian para santriwati, pun orang sepertiku yang mengidam-idamkan kehidupan pesantren.  Ini pesantren dibalik jeruji, pesantren dengan baju seragam berwarna biru tua yang di bagian punggung baju nya bertuliskan 'lembaga permasyarakatan'  Hingga... kini, entah bagaimana Tuhan dengan tinta Nya menuliskan takdirku untuk bisa berteman dengan penulis buku yang selama ini ku cari-cari bukunya...