Kadang-kadang, manusia lupa akan hakikat kepemilikan. Saat merasa terikat dengan seseorang, kita mengartikan bahwa dia adalah utuh milik kita. Seperti Ibu kepada anaknya, anak kepada ibunya, istri kepada suaminya, ayah kepada anaknya dan banyak hubungan lain, yang membuat kita lupa bahwa kita di dunia ini hanya dititipi sementara, bukan menjadi pemilik utuhnya. Titipan-titipan itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sebab itulah, dalam suatu hubungan yang mengikat satu manusia satu dan yang lain, perasaan memanglah penting, tapi bukan yang utama. Lalu apa yang lebih utama dari perasaan pribadi kita ini? Adalah tanggung jawab kita kepada yang Maha segala. 💔